Kisahku Mengenai Sosok Ayah

Adalah sosok pencinta keluarga yang tak pernah banyak berkata-kata, dalam diamnya menyimpan sejuta cinta bagiku dan seluruh keluarganya. Seorang pekerja keras yang rela berkotor-kotor demi member sesuap nasi bagi keluarganya di rumah.
Kecil dan hidup dalam lingkungan yang keras dan mesti berusaha melawan nasib sejak usia belia telah menempa mental sang ayah menjadi seorang petarung hidup sejati, tak pernah menyerah melawan nasib meski kadang nasib tidak selalu berada disisinya, tak pernah menyerah untuk berjuang sekuat tenaga karena ia tau semua nafas keluarganya ada dalam seberapa kerasnya ia bekerja.
Bekerja sebagai tukang cat mobil di sebuah bengkel kecil yang terletak di daerah cipinang, Jakarta timur. Telah menggeluti profesinya ini sejak aku kecil bahkan aku sudah tak ingat lagi kapan pertama kali beliau memulai profesinya tersebut. Bekerja dari pagi hingga menjelang malam, dan tidur di sebuah papan-papan kayu yang disusun menjadi sebuah bilik yang lebih cocok disebut kandang daripada tempat tidur. Tapi sekali lagi itulah beliau, tak akan menyerah hanya karena harus tidur ber-alaskan kayu.
Hari ini, melihat beliau masih bekerja dengan profesi yang sama rasanya ingin meneteskan air mata, air mata bangga, air mata terima kasih, air mata maaf atas segala tindakanku diwaktu kecil bahkan sampai nanti aku tua yang banyak mengecewakannya. Melihat beliau menggenggam sebuah amplas dan mulai menggerakkan tangan kasarnya maju mundur mengelap body mobil yang telah selesai didempul sampai halus sebelum nantinya bisa mulai dicat. Tangan kasar nan hitam melambangkan betapa selama ini ia telah berjuang terlalu keras untuk keluarganya, Otot-otot seakan ingin keluar dari tempatnya tanda bahwa terlalu sering otot tersebut mengerjakan pekerjaan berat yang seharusnya sudah mulai ditinggalkan oleh orang seusia beliau.
Hari ini, aku tak sanggup berkata-kata ketika melihat beliau mengerjakan semua pekerjaanya sendiri, seketika itu pikiranku terbang ke masa aku kecil, mengingat tangan-tangan yang aku ingat dulu tak sekasar itu menggendongku diatasnya, dengan senyuman khasnya beliau mengangkat aku dengan bangga dan seolah berkata pada dunia “Inilah anak pertamaku”. Dan seolah dunia tertunduk meng-iyakan ketika beliau mengatakan hal itu.
Berapapun cinta yang pernah aku rasakan dari berbagai wanita nyatanya tak sanggup menggantikan cinta yang diberikan oleh ayah kepadaku sampai hari ini, beliau yang pendiam dan sebenarnya tak sekalipun kudengar kata cinta keluar dari bibir hitamnya namun cintanya sungguh tak akan pernah bisa aku balas bahkan jika aku bisa mempersembahkan seluruh dunia beserta isinya untuk beliau.
Dan sebuah kata indah untuk mengakhiri tulisan ini,
“Proud to be your Son”

pernah dipublikasikan juga di : cek disini

mazipan-signature

mazipan-signature

Be a good reader, leave your comment please.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s