Memaknai Uban Yang Ada Di Kepala Kita

Dikutip dari tulisan Ahmad Barjie B

Dag, dig, dug. Getaran perasaan ini mungkin dialami orang
yang pertama kali mendapati satu dua helai uban di
rambutnya, Dag, dig, dug. Getaran perasaan ini mungkin
dialami orang yang pertama kali mendapati satu dua helai
uban di rambutnya, baik diketahuinya sendiri maupun lewat
penglihatan istri/suami atau anaknya. Timbul pikiran
spontan dalam dirinya: Sudah tuakah aku?; Sudah hilangkah
masa mudaku?; Ataukah aku mulai berbau tanah alias makin
dekat dengan kematian?

Bagi orang yang mengutamakan penampilan dan tidak ingin
dianggap tua, mungkin segera mencabut ubannya. Setiap hari
dengan seksama ia amati, jika ada lagi uban tumbuh dicabut
kembali. Ada juga yang sibuk menyemir rambut agar sang
uban tidak kelihatan. Tetapi tidak sedikit membiarkan
ubannya bertambah, tanpa mau memikirkan terlalu serius. Ia
pikir kalau uban sudah waktunya mampir mengapa harus
ditolak. Dicabut dan disemir pun tidak banyak membantu.
Hidup ini tidak berjalan di tempat, usia selalu bertambah
dan fisik pun berubah. Uban adalah sinyal perubahan itu.
Jadi tidak perlu ditutup-tutupi.

Sebenarnya uban itu indah. Seseorang kelihatan lebih
matang dan intelek ketika ada uban di kepalanya. Profesor
dan doktor kurang afdhal kalau uban belum banyak di
kepalanya dan belum botak, seolah ilmunya belum mumpuni.
Pengacara kawakan Adnan Buyung Nasution, Mahendradatta,
mantan anggota DPR RI era orde baru asal Sulsel Tajuddin
Noer Said, Menhub Hatta Rajasa, mantan Gubernur NTT Piet A
Tallo dan masih banyak lagi, adalah tokoh yang kelihatan
lebih berwibawa dengan rambut peraknya. Terkesan mereka
lebih gagah ketimbang saat rambutnya masih hitam.

Makna fisik

Uban (syaibun/grey) merupakan gejala alamiah. Secara pasti
akan mendatangi setiap orang, kulit putih mulai beruban di
usia 34 tahun, kulit hitam 43 tahun dan kulit sawo matang
seperti orang Indonesia lebih segera, 30 tahun ada yang
sudah mulai beruban. Pada beberapa kasus terjadi
pengubanan dini (premature greying), sebelum usia 20
tahun. Kasus begini terbilang langka, biasanya karena
faktor gen atau keturunan.

Tumbuhnya uban disebabkan berkurangnya aktivitas sel
melanosit yang menghasilkan pigmen melanin. Penurunan
melanosit berbanding lurus dengan pertambahan usia.
Berkurangnya melanosit berakibat memutihnya rambut. Ini
bisa diperparah bila seseorang mengidap suatu penyakit
yang sukar disembuhkan atau penyembuhannya memakan waktu
lama. Kekurangan vitamin B6 yang berdampak pada kurangnya
sel darah merah, penyakit kencing manis dan gangguan
kelenjar gondok, gizi kurang dan sejenisnya, juga memberi
pengaruh signifikan pada percepatan tumbuh dan
berkembangnya uban.

Bila orang ingin mengantisipasi dan memperlambat tumbuh
dan berkembangnya uban, perlu perbaikan gizi dengan
memperbanyak makanan berprotein, makanan suplemen
antiuban, vitamin B Kompleks, B5, dll. Beberapa jenis
makanan kaya vitamin seperti gandum, beras, hati ayam,
hati sapi, dll, baik sekali dikonsumsi, ditambah massage
dan creambath guna memperlancar sirkulasi darah di kulit
kepala (BPost, 24/5/2005).

Seorang nenek usia 75 tahun ubannya bisa dihitung. Setelah
ditanya rahasianya, ternyata sejak gadis ia mengamalkan
minyak kelapa untuk rambutnya, tanpa mau pakai minyak
rambut pabrikan. Apakah minyak kelapa mengandung unsur
pengawet rambut, perlu penelitian lebih lanjut. Baginya,
yang penting rambut tetap subur dan hitam. Meski beraroma
khas ia tidak peduli.

Apa pun usaha yang dilakukan, hakikatnya hanya
memperlambat dan mengurangi, bukan mencegah tumbuhnya
uban. Tidak sedikit orang dari keluarga kaya yang gizinya
baik dan gigih menekan uban, tetap saja uban hadir. Jadi
suka atau tidak, uban harus diterima sebagai sebuah
keniscayaan alami.

Makna psikis

Hadirnya uban juga dipicu oleh stres. Sebab, stres
mempengaruhi aktivitas hormon dan meningkatkan autoimun
yang berakibat uban datang lebih awal. Bagi orang
Indonesia, angka stres cukup tinggi. Di awal terjadinya
krisis ekonomi moneter (1998), Political and Economic Risk
Consultancy (PERC) yang berpusat di Hongkong mencatat:
tingkat stres orang Vietnam 8,5; Korea Selatan 8,2;
Thailand 7,8; Indonesia, Cina, Hongkong, Jepang, Filipina
dan Singapura 6,7; Malaysia 5,6; Taiwan 5,5.

Mengingat krisis lambat pulih, sementara negara lain sudah
normal, dipastikan tingkat stres orang Indonesia masih
tinggi. Prof Dr Dadang Hawari melihat, stresor psikososial
paling dominan sekarang adalah masalah ekonomi, keuangan,
posisi dan pekerjaan. Selebihnya juga karena problema
keluarga, kesehatan dan lingkungan.

Di tengah angka stres yang tinggi, dipastikan jumlah orang
yang beruban lebih cepat dari yang seharusnya juga
meningkat. Ini ditambah pula problema pekerjaan orang
kantoran dan pekerja swasta yang karena tekanan kerja atau
ambisi yang tidak tercapai, juga riskan memicu stres. Ada
orang yang gagal jadi anggota legislatif atau di-PHK,
mendadak uban menjamur di kepalanya.

Tetapi tanpa faktor penekan sekali pun, perjalanan usia
pasti membuat seseorang makin banyak berpikir. Dengan
begitu, uban akan tumbuh sebagai sinyal ketuaan dan
kelelahan. Karena itu, memang sudah semestinya orang yang
beruban lebih matang dan bijak dalam menyikapi hidup.
Sudah waktunya lebih introspektif, tidak terlalu
diperbudak nafsu, ambisi jabatan, kedudukan dan kekayaan.
Waktu dan perhatian harus lebih terfokus mengabdi pada
keluarga dan masyarakat tanpa pamrih.

Patut disayangkan, masih banyak orang beruban yang suka
dugem (dunia gemerlap), diskotek, miras, narkoba dan main
perempuan di luar nikah. Bergaya ABG, dipercaya menjadikan
awet muda. Sebenarnya tidak ada gunanya menunda ketuaan
dengan cara hedonik seperti itu, karena hanya nikmat
sesaat dan hipokrit. Generasi muda membutuhkan figur
panutan orangtua yang baik dan mendidik. Tak jarang orang
tua ubanan meninggal di tempat yang berbau maksiat. Kalau
sudah begitu, biar sebelumnya gemar berbuat baik,
cenderung dinilai sebagai orang buruk dan celaka. Nilai
hidup seseorang sering diukur di babak akhir.

Makna agama

Agama mematok puncak usia dewasa pada angka 40 tahun.
Meski usia harapan hidup lansia pada 1995 mencapai 63,3
tahun dan 2000 meningkat 64,5 tahun (Milhan, BPost, 28/5),
namun usia 40 tahun harus diberi catatan. Di usia ini, ada
atau tidak ada uban, seseorang dituntut lebih banyak
menggunakan agama sebagai cermin.

Menurut KH Husin Naparin Lc MA (2003: 15), usia 40 tahun
mendapat sorotan tajam dalam Alquran. Allah menyuruh
manusia di usia ini memperbanyak syukur, zikir, amal
saleh, memikirkan dan menyiapkan generasi mendatang agar
lebih baik, banyak bertobat dan memantapkan keislaman.
Usia ini merupakan batas puncak kematangan akal pikiran
dan perjalanan hidup, selanjutnya seseorang akan berjalan
menurun.

Syekh Musthafa al-Manfaluthi ketika beru0sia 40 tahun
meratapi usia mudanya yang telah pergi, telah berlalu masa
bermain dan bersenang-senang. Ia merasa telah sampai ke
puncak kehidupan, dan selanjutnya menuruni lereng
kehidupan sebelahnya. Ia tidak tahu, apakah dapat turun
dengan selamat ataukah akan tergelincir dan jatuh.

Kerisauan al-Manfaluthi tentu merupakan kerisauan kita
semua. Meski usia harapan hidup sudah cukup tinggi, kita
tidak pernah tahu sampai di mana limit usia kita, sebab
ajal merupakan misteri kehidupan, dan peristiwa kematian
merupakan pemandangan harian. Adanya uban, harus dijadikan
indikator lebih separo umur sudah dilewati. Jarang orang
sekarang berumur 80-an tahun.

Bagi yang membiarkan rambutnya penuh uban, perlu kita
hargai. Berarti, ia jujur dengan dirinya sendiri dan tidak
ingin merekayasa penampilan. Yang bersangkutan tidak perlu
diledek sudah bau tanah, atau termasuk anggota ‘KPU’
(kepala penuh uban), meski dengan maksud bercanda.
Sekiranya belum punya cucu, tidak bijak pula jika
dipanggil kakek atawa kai.

Tetapi bagi yang berusaha menyembir rambutnya jika masih
memungkinkan, itu pun tidak usah disalahkan. Imam Turmudzi
dalam kitab al-Syamail menyatakan, Rasulullah SAW juga
menyemir ubannya dengan daun pacar dan katam, sehingga
berwarna merah tua. Bila rambut beliau diminyaki uban
tidak terlihat, dan bila tidak barulah terlihat. Namun
menurut Anas bin Malik, uban Rasulullah sampai akhir
hayatnya tidak banyak, hanya 14 helai, dan menurut Ibnu
Umar 20 helai saja. Jadi menyemir rambut untuk menutupi
uban, terutama bila masih sedikit, dibolehkan. Tentu
dengan catatan, bahan semirnya tidak terlarang dan tidak
menghalangi berwudlu dan shalat.

Sekarang rambut beruban bisa dihitamkan, penampilan bisa
direkayasa, banyak teknologi modern untuk mempermak wajah.
Bahkan program Swan di Inggris, mampu mengubah fisik dari
ujung kaki ke ujung rambut berbeda dengan aslinya. Tetapi
tidak boleh dilupakan, hitungan usia yang sebenarnya tetap
berjalan. Uban, kulit keriput, urat kendor, mata kabur,
penyakit dan sejenisnya perlu dimaknai sebagai SMS dari
Allah bahwa malaikat maut sudah mulai mengintai.

Mantan Presiden Perancis, mendiang Francois Mitterand
lewat bukunya Intimate Death menyatakan, mati adalah
seperti perjalanan ke alam yang tidak dikenal. Benar pesan
Alquran, agar keislaman semakin dimantapkan yang ditandai
kecintaan beramal individual dan sosial. Berapa pun usia
yang dijatahkan Tuhan, faktor iman dan amal sangat
menentukan. Dengan memperkuat iman dan amal saleh,
seseorang insyaallah akan sampai ke ujung usianya dalam
keadaan husnul khatimah. Amien.

Be a good reader, leave your comment please.

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s